Tulis Menulis Photo of author

Perbaiki Tulisanmu, Pesan Ibu Guru

 

SAYA MUNGKIN salah satu manusia yang memulai sebuah tulisan dengan air mata. Air mata yang nyata.

Bagaimana tidak, di suatu pagi dengan menggendong tas ransel di belakang punggung yang berisi dengan perlekapan menulis, saya cukup percaya diri mengenakan pakaian seragam celana pendek berwarna merah dan kemeja putih.

Saya berpamitan kepada kedua orang tua dan berjalan meninggalkan luar rumah.
Saya berangkat ke sekolah.

Berjalan menyusuri lorong komplek menuju gedung SD berlantai dua, tanpa bekal pernah atawa bisa membaca dan menulis. Bahkan parahnya, memegang kayu pencil pun jarang.

Pelajaran pertama dimulai, dan anak-anak diminta Bu Rus (Guru Kelas I) untuk mengeluarkan perabotan dari dalam tas masing-masing. Siapkan buku dan pencil di atas meja.

Entah tulisan apa yang diminta oleh Ibu Guruku tercinta ini, mungkin nama masing-masing murid atau menuliskan kata atau huruf yang ditulis di papan tulis. Atau bisa jadi tokoh favorit atau akun media sosial yang dimiliki (ini sih tak mungkin karena masih tahun 1990-an, haha).

Bergegas semua murid mulai memadukan pencil dan bukunya. Saya pun tak mau ketinggalan, ingin juga merasakan getaran pencil di arena kertas putih buku.
Tapi, rasanya pencil sulit untuk bergerak. Walaupun bergerak, goretannya tak sesuai dengan yang saya inginkan.

Melihat sekeliling kawan-kawan di bangku sebelah dan di ruang kelas yang dengan mudah menulis di buku. Saya malah panik, terus mencoba menggerakkan pencil.

Tak terasa, tiba-tiba air mata mengalir. Tapi tidak sampai membasahi bumi, hanya menetes sedikit demi sedikit di atas kertas putih di dekat ujung mata pencil.

Saya seakan tak rela kertas yang basah terkena air mata, sembari menulis saya pun berupaya mengeringkan tumpahan air suci (tapi tidak mensucikan) tersebut dengan menggosok secara perlahan dengan tangan.

Gosokan demi gosokan makin kencang lantaran kertas justru semakin lembab oleh guyuran air mata yang tak kunjung berhenti. Mungkin saya semakin ketakutan dan malu karena tak mampu menulis seperti yang diperintah Ibu Guru.

Bukannya sibuk menyelesaikan tugas menulis, saya justru mengelap dan terus mengusap limpahan air mata yang jatuh ke hamparan kertas. Tiba-tiba, kepanikan semakin membuncah, kertas yang seharusnya menjadi media tulisan justru dihajar air mata dan gosokan tangan.

Waduuh.. kertas saya malah jadi bolong.

Walhasil, singkat cerita catatan raportnya Bu Rus dengan tulisan tangannya berpesan kepada kepada saya untuk memperbaiki tulisan, dan Belajarlah untuk menulis.

Mungkin inilah cerita awal saya yang tak singkat tentang tulis-menulis, mudah-mudah menjadi bahan bacaan meskipun dirasakan kurang manfaat.
Ya, harus saya teruskan belajar untuk menulis. Kemudian, perbaiki tulisan itu.

Selamat menikmati konten-konten lain dalam blog ini.

Leave a Comment

× How can I help you?